SORGUM

Kabupaten Demak, merupakan salah satu daerah penghasil sorgum/canthel sehingga dulu masyarakatnyapun sebagai pengkonsumsi berasan sorgum. Namun, beberapa tahun terakhir pertanaman sorgum menurun drastis. Pembangunan Kedung Ombo menjadi titik awal perubahan pola tanam dan konsumsi masyarakat. Budaya konsumsi sorgum lambat laun terkikis karena perubahan usahatani menjadi berbasis padi dan masyarakat menjadi pengkonsumsi nasi. Perubahan ini menimbulkan lonjakan prevalensi penyakit Diabetes Mellitus atau kencing manis (kadar gula dalam darah tinggi) di Kabupaten Demak. Penyebabnya dicurigai karena faktor pangan selain genetik, bahan toksik dan pola hidup malas bergerak. Umumnya, nasi (padi) memiliki Indeks Glikemik tinggi (>70), dibanding sorgum (sekitar 41) sehingga nasi lebih cepat menghasilkan gula dalam darah. Telah diketahui umum, penyakit DM dapat memicu penyakit degeneratif lainnya yang dapat menurunkan produktivitas manusia.

Saat ini sorgum memang masih diusahakan, namun arealnya jauh lebih kecil (± 75 ha) terkonsentrasi di desa Raji Kecamatan Demak. Pemanfaatan sorgum umumnya untuk campuran jenang atau pakan ternak. Pemerintah Kabupaten Demak, melalui Dinas Pertanian dan Pangan mencoba menghidupkan kembali peran sorgum dalam pola konsumsi pangan sehat melalui program diversifikasi pangan, agar masyarakat lebih sehat dan berkurang ketergantungannya terhadap beras. Guna mewujudkan hal tersebut, Distanpan Demak menggandeng Badan Litbang Pertanian untuk mensosialisasikan berbagai teknologi pengolahan sorgum melalui kegiatan Bimbingan Teknologi yang diadakan pada tanggal 7-8 September 2017 di desa Raji, Kecamatan Demak dengan tema “Pascapanen Sorgum menuju Pengembangan Kawasan Diversifikasi Pangan”.

Acara Bimbingan Teknologi ini secara resmi dibuka oleh Kepala Distanpan Kabupaten Demak dihadiri oleh sekitar 60 orang peserta dari dalam dan luar desa Raji khususnya anggota kelompok wanita tani dan kelompok tani, para perajin makanan kecil dan bakso, serta tamu undangan dari dinas perdagangan, UMKM dan Koperasi, Bappeda Litbangda, Camat Demak, serta tuan rumah Pemerintah Desa Raji dan BB Pascpanen Pertanian. Dalam sambutannya Kepala Distanpan menghimbau dan mengajak masyarakat untuk kembali membiasakan diri mengkonsumsi sorgum dalam menu hariannya. Disampaikan pula bahwa masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan momen Bimtek dengan sebaik-baiknya sehingga dapat membuat produk olahan sorgum yang lebih dapat diterima sebagai konsumsi harian.

Bimbingan Teknologi olahan sorgum di desa Raji dilaksanakan selama dua hari. Materi pelatihan meliputi pembuatan mi dan makaroni dari tepung sorgum, serta pembuatan bakso ayam dengan bahan filler tepung sorgum. Selain sorgum, komoditas unggulan Kabupaten Demak lainnya adalah pisang, oleh karena itu, Bimbingan Teknologi juga menyampaikan materi terkait olahan pisang yaitu sirup dan dodol pisang kepok. Materi ini merupakan permintaan khusus dari masyarakat Raji.

hasil olahan sorgum (canthel)

Pada acara penutupan, Kepala Desa Raji menegaskan kembali maksud penyelenggaraan Bimtek, yaitu untuk menghidupkan kembali konsumsi sorgum dalam menu harian. Selain itu, alat penyosoh sorgum yang telah dipinjam-pakaikan oleh BB Pascapanen Pertanian kepada desa Raji agar dapat difungsikan secara maksimal sehingga bisa lebih meningkatkan ekonomi wilayah di dalam maupun sekitar Raji. Sebagai konsekuensinya, masyarakat diharapkan aktif kembali menanam sorgum di lahan mereka dan berkomitmen untuk mengkonsumsi sorgum kembali. Umumnya peserta senang dan menilai positif atas penyelenggaraan Bimtek di desa Raji, yaitu menambah pengetahuan dan keterampilan mereka terutama dalam mengolah sorgum dan pisang.